← Back to portfolio

Representasi Kehidupan Sosial Masyrakat Inggris di Wigan

Published on

‘The Road to Wigan Pier’ merupakan sebuah hasil karya yang mengangkat tema tentang kehidupan orang miskin di daerah pingggiran Inggris yakni Wigan Pier. Dalam essay ini, Orwell banyak mengeksplorasi tentang struktur kelas sosial masyarakat, antara kelas bawah yaitu para pekerja dan kelas atas yang dikategorikan sebagai kalangan penguasa.

When you see the unemployment figures quoted at two millions, it is fatally easy to take this as meaning that two million people are out of work…(chapter: 5).

Lewat tulisannya, Orwell memaparkan realita sosial masyarakat Inggris khususnya di Wigan, bahwa kemiskinan memang merajalela dan hampir separuh penduduk Inggris saat itu tidak memiliki pekerjaan. Bisa dibayangkan dua miliyar masyarakat Inggris tidak memiliki pekerjaan. 

Read More

Di tahun 1937, penduduk Inggris yang berjumlah dua miliyar merupakan pengangguran. Tetapi jumlah yang begitu banyak ini hanyalah yang sudah ter-sensus oleh pemerintah, dan hanya angka yang menunjukkan berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan. Agar lebih terperinci lagi, coba kalikan angka ini dengan angka sekurang-kurangnya tiga untuk mendapatkan jumlah orang yang medapatkan pekerjaan dan mereka yang hidup diatas sokongan gaji yang didapatkan dari hasil kerja keras mereka. Jika digabungkan dengan para pensiun yang berhenti bekerja di lingkungan industri maka akan menghasilkan sekitar lima belas miliyar orang hidup dibawah sokongan dana dari pemerintah yang terdiri atas pengangguran dan orang-orang yang sudah melepas pekerjaannya (pensiun).

This is an enormous under-estimate, because, in the first place, the only people shown on unemployment figures are those actually drawing the dole—that is, in general, heads of families. An unemployed man’s dependants do not figure on the list unless they too are drawing a separate allowance. A labour exchange officer told me that to get at the real number of people living ors n (not drawing) the dole, you have got multiply the official figures by something over three. This alone brings the number of unemployed to round about six millions. But in addition there are great numbers of people who are in work but who, from a financial point of view, might equally well be unemployed, because they are not drawing anything that can be described as a living wage. …… (chapter: 5).

Orwell mendeskripsikan kehidupan finansial Wigan Pier. Para pengangguran  pada umumnya hidup di bawah bantuan uang dari pemerintah, yang dalam paragraf ini direpresentasikan dengan kata “dole” yang secara leksikal berarti sedekah, uang sokongan, atau menerima uang karena menganggur. Begitu banyak jumlah para penganggur (pengangguran dan pensiun) yang menerima bantuan dana. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja masih banyak para penganggur yang belum ter-sensus sehingga tidak mendapatkan uang bantuan dari pemerintah.

Selain itu, di dalam Essay ini pun tergambar betapa malangnya nasib masyarakat kelas bawah (penganggur atau pun buruh). Orwell juga juga mendeskripsikan dengan detail mengenai keadaan tempat tinggal kaum pekerja yang memang tak layak huni. 

“My bed was in the right corner on the side nearest the door. There was another bed across the foot of it and jammed hard against it (it had to be in that position to allow the door to open so that I had slept with my legs doubled up”.

Dari kutipan di atas, dijelaskan bahwa keadaan rumah sewa yang secara mayoritas dihuni oleh kaum buruh atau pekerja sangat tidak nyaman untuk tidur atau pun untuk sekedar melepas lelah. 

“We lodgers were never given tripe to eat. At the time I imagined that this was because tripe was too expensive”.

“…, a bed in the attic and meals chiefly of bread-and butter. One of them was of ‘superior’ type and was dying of some malignant disease—cancer, I believe”.

“When you see the unemployment figures quoted at two millions, it is fatally easy to take this as meaning that two people are out of work…”.

Kondisi hunian masyarakat Inggris kelas bawah tergambar jelas dari kutipan-kutipan di atas. Ruang tempat tidur yang begitu sempit sehingga George Orwell terpaksa harus menekuk kedua kakinya agar tidak menghalangi pintu kamar. Tak hanya itu, keadaan yang menghawatirkan juga di alami mereka dari segi kebutuhan pangan. Makanan  yang mereka konsumsi pun tidak layak untuk dimakan karena sepertinya sudah tercemar penyakit dan mungkin saja bisa menyebabkan kanker jika terus dikonsumsi.  Atau bahkan kemungkinan besar lainnya,  makanan yang mereka konsumsi tersebut adalah makanan sisa, bekas orang lain layaknya para gelandangan. Ilustrasi Orwell ini begitu yang mencengangkan bukan?

Orwell dalam Essay-nya seolah menekankan bahwa masyarakat Wigan Pier tinggal di dalam kondisi seperti ini karena memang tidak memiliki akomodasi yang cukup. Mereka bekerja keras setiap hari hanya untuk mendapatkan tempat untuk tidur, bukan sebuah tempat tidur yang nyaman untuk dapat tidur nyenyak. Masyarakat Wigan kalangan bawah berbagi kasur satu sama lain, dan memakan sisa-sisa makanan untuk bertahan hidup. 

Secara historis, Inggris pernah mengalami suatu waktu dimana negara mereka mengalami sebuah resesi dan depresi dalam bidang ekonomi (ketidakstabilan ekonomi). Kemiskinan menempati sebuah eksistensi dan kehidupan mereka yang digambarkan Orwell dengan menunjukkan seberapa depresinya kondisi tersebut mempengaruhi mereka. Sebagai contohnya selama kurun waktu ini komoditas selalu berada di titik rendah, sementara di sisi lain mereka dihadapkan pada kebutuhan tinggi. Hal ini tentu saja mempengaruhi kehidupan orang-orang miskin atau kelas buruh, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup seperti pakaian, makanan, dan tempat tinggal. 

Orwell pun menggambarkan tentang orang-orang yang bekerja untuk memenuhi keperluan hidupnya. Mereka (kaum pekerja ini) berusaha mendapatkan pakaian bagus, berbelanja ke toko, atau membeli alat-alat elektronik. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak pernah mampu untuk mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan tersebut, seperti misalnya sweater untuk menghangatkan tubuh, radio, atau pun tempat tidur yang bagus. 

Ironisnya memang orang-orang yang bekerja keras tanpa kenal lelah itu tetap saja tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, pekerjaan dan keringat yang mereka korbankan tak lain hanyalah untuk membayar sewa tempat tinggal kepada para tuan tanah. 

Hal-hal tersebut kemudian mendorong Orwell  untuk menciptakan gagasan masyarakat Utopia, yakni suatu keadaan harmonis yang didambakan oleh masyarakat WiganOrwell sangat merasa prihatin dan tersentuh oleh mereka (kelas pekerja), terutama pengorbanan yang dilakukan para pekerja kelas bawah dalam melakukan pekerjaan yang tanpa henti tanpa sebuah keuntungan yang dapat membuat hidup mereka makmur, dalam hal dapat memenuhi keperluan hidupnya. Dia percaya bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan oleh Inggris untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera atau bangkit dari keterpurukan ialah dengan cara memperbaiki kembali sistem ekonomi untuk mengabungkan semua kelas sosial masyarakat. Orwell kemudian mengajukan gagasan sosialis dan menyebarkan faham ini di tengah masyarakat, salah satunya dengan membandingkan faham sosialis ini dengan faham fasisme, dan mencoba untuk menunjukkan berapa banyak masyarakat yang lebih menyukai faham sosialis, karena kebebasan mereka tidak terletak pada pemerintah yang mengaturnya dan membuat sebuah sistem di dalam masyarakat Inggris tersebut.

Dalam hal ini, Orwell menyuguhkan sebuah solusi yang menarik terhadap pemerintah Inggris ditengah isu kemiskinan yang melanda. Bagaimanapun, jika pemerintah lebih bergantung pada mereka (Masyarakat kelas atas) yang di pandang seolah memiliki kuasa karena mereka dapat menanamkan modal dan membantu menaikan kondisi ekonomi pemerintahan, maka diskriminasi kaum kelas bawah akan semakin sulit dihapuskan. Masyarakat kelas bawah tidak akan memiliki ruang gerak yang bebas layaknya para penguasa yang ada di kelas atas.

Orwell juga mencoba menanamkan sebuah ajaran  sosialisme yang selama beberapa tahun dipertentangkan setelah terjadi perang besar “Great War”.  Menurutnya bahwa ada sebuah perbedaan atau batas yang membatasi tanah jajahan dan mesin (industri). Dalam hal ini, Orwell pun menekankan bahwa pemerintah bisa membangun sebuah kehidupan yang layak di sekitar tanah jajahan dan dari mesin yang telah ada, yang merupakan salah satu implementasi dari konsep sosialisme di era tersebut.

Dari beberapa data dan informasi yang telah dipaparkan di atas, bisa disimpulkan bahwa berdasarkan persepsi Orwell, alasan terjadinya lonjakan ekonomi dan kondisi masyarakat Wigan kelas bawah yang sangat dramatis adalah merupakan akibat dari pengaruh sistem kapitalis dimana  para penguasa yang memiliki modal dan menguasai daerah tersebut bertindak setara dengan hukum, sedangkan masyarakat miskin dan buruh yang berada dalam struktur kelas bawah hanya hidup sebagai alat penyedia dan pendukung produksi dalam roda bisnis kapital kelas atas.